Untuk Awam : Uji Kompetensi Dokter, apa gunanya sih?

“Ribut-ribut Uji Kompetensi Dokter, ada yang setuju, ada yang nggak, sebenernya apa sih gunanya itu?”

Bayangkan seperti ini.

Ban motor kita bocor, lalu kita ke tukang tambal ban, ternyata tukangnya nggak bisa nambal, bannya masih bocor.

Kita ke restoran, ternyata kokinya nggak bisa masak. Masakannya bukan cuma nggak enak, bahkan gosong.

Kita ke tukang servis henfon. Tulisannya sih servis henfon, ternyata buka henfon aja nggak pernah, isi komponen henfon aja nggak tahu.

Itu juga yang terjadi kalau jadi dokter nggak lewat uji kompetensi. Sama kayak tukang tambal ban nggak bisa nambal, koki nggak bisa masak, tukang servis henfon tapi nggak bisa nyervis henfon.

Bedanya itu urusannya ban, rasa dan henpon. Sementara yang ini : nyawa.

#DailyJournal : Blog Favorit

Dua blog ini adalah favorit saya : suamigila.com punya Kang Adhitya Mulya, dan manampiring17.wordpress.com punya Om Henry Manampiring.

Postingan favorit gue dari Suamigila.com adalah tentang keluarga dan tentang cara pandang terhadap agama dan perilaku masyarakat :

  1. Wacana – Apakah Poligami masih valid?
  2. How Islamic Are Islamic Countries?
  3. Akar Masalah Negara Ini
  4. Aldebaran 5 tahunan

Postingan favorit gue dari manampiring17.wordpress.com tentunya survey-surveynya (ini keren banget), tentang hubungan antar manusia, dan juga cara pandang Om Piring terhadap isu populer :

  1. A Letter to My Imaginary Child
  2. Saya Minta Maaf Kepada Indonesia
  3. Laporan Survey Kepuasan Pasangan (PALING DEMEN!)
  4. Laporan Survey menyebalkan Nasional

Kontennya berguna dan praktikal, bisa menyatakan argumen yang kuat dengan reasoning yang logis, yang bikin kita bergumam dalam hati “iya bener bener!”, dan bisa stand on their side tanpa membuat pembaca yang berada di opposite side merasa terserang. Mereka bisa cerita tentang diri dan hidupnya sendiri, tapi tidak membuat pembaca berpikir “terus, so what?”, malahan pembaca akan turut menjadi bagian dalam cerita tersebut. Adhitya Mulya adalah seorang islam yang taat, dan dia banyak menulis tentang islam, sementara gue katolik tapi gue menikmati membacanya. Henry Manampiring sering mengiklankan produk, dan gue gak pernah pakai produknya tapi gue juga menikmati membacanya. Keren kan?  Bonus : mereka genuinely funny.

Blog seperti mereka juga memberikan saya harapan, ketika menemukan pikiran-pikiran yang logis dan menyenangkan, di tengah hiruk pikuk The Social Media Generation, the self-centered Generation. Generation that love to feel that they are never wrong and are higher than everyone else. Generasi ini membuat istilah diskusi menjadi hilang, berganti menjadi sensi, ujung-ujungnya ribut (udah ribut, nggak lucu lagi. Kalo lucu masih bisa dinikmati sambil makan kacang atom). Padahal diskusi itu menyenangkan lho, syaratnya pihak yang berdiskusi melontarkan dan mau menerima argumen berdasarkan fakta dan logika sederhana. Kalau maunya ngotot terus walaupun udah sadar salah secara fakta dan logika sederhana ya gabung aja sana sama partai anu..

Lho kok jadi ngelantur. Udah ah..

Pelajaran Hidup dari 2013

Segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘review setahun lalu’ mendadak basi ketika Januari sudah melewati tanggal 5. That’s why menurut gue post ini juga basi. Tapi gapapa gue akan lanjut nulis karena gue lagi pengen aja. Karena ‘lagi pengen’ atau ‘lagi males’ itu adalah salah satu motif terkuat orang melakukan/tidak melakukan sesuatu.

Kali ini gue mau nulis tentang pelajaran yang gue ambil dari hidup gue sepanjang tahun 2013 yang udah lewat. lewat lama. Kenapa begitu? Karena :

  1. Kalau cara pandang gue terhadap hidup tidak berubah setelah setahun berlalu, berarti gue udah buang-buang waktu setahun dong? Wong kita buang-buang waktu 4 jam di kemacetan aja udah marah-marah, apalagi setahun.
  2. Kalau orang lain baca ini, setidaknya dia gak perlu masuk lubang yang sama dulu untuk belajar. Karena orang pintar gak membiarkan dirinya masuk angin terus minum jamu, tapi orang pintar itu belajar dari kesalahan. Kesalahan orang lain. Supaya hemat waktu.
  3. Kalau gue tiba2 lupa apa yang terjadi setahun lalu, gue bisa baca ini lagi. Ingatan bisa hilang, tapi tulisan bisa dibaca lagi.

Oke mulai aja.

Di tahun 2013 kemarin pendapatan gue naik dibanding tahun sebelumnya. Dilihat secara nominal mungkin kecil untuk kalian anak-anak milyuner yang pakai supir, 3 bulan sekali liburan ke luar negeri, tiap lunch dan dinner di restoran berkelas, yang uangnya tentunya dari papa mama kalian yang kaya dan baik hati memanjakan anaknya.

Gue yang tadinya gak bisa beli apa-apa mendadak kagetan. Ngerasa punya uang. Padahal ya itu tadi, secara nominal bener-bener belum apa-apa. Pengeluaran gue jadi tidak terkontrol dan konyol.

Happy? Nggak. Gue malah jadi ngerasa kurang terus. Craving for more. Earn more, tapi spend more. Belom lagi rasa nyesel yang suka muncul begitu liat “lah gue ngabisin segini? buat apaan aja sih.. duh, coba gak gue pake..”.

Sampai pada satu titik mendekati akhir tahun gue seperti dijedotin. Bahwa gue belum pantes dan sebenernya gak nikmatin juga ngejalanin gaya hidup seperti ini. Bahwa saat kita spend money, pleasurenya tuh cuma ada pas kita bayar. Ngerasa punya power. Kalo dulu cuma bisa liat dan bilang “gila mahal bener nih!” sekarang ngerasa mampu terus dalam pikiran “cuma segini, bisa lah. beli lah!” abis itu nguap fuih.. belum tentu juga kepake barangnya. Bener-bener sesaat.

Ternyata keputusan gue dan partner untuk bagi-bagi profit setiap akhir periode usaha malah jadi bumerang. Gue nggak siap dengan lonjakan tersebut, dan malah ngegerogotin perusahaan. Uang yang harusnya bisa dijadikan aset untuk perusahaan bertambah besar, malah gue pake untuk konsumsi.

Untung akhirnya gue sadar, dan mulai menata lagi. Gue atur sedemikian rupa sehingga gaji yang gue terima (karena gue punya usaha sendiri jadi gue ngatur gaji sendiri), ngepas dengan kebutuhan gue. Jadi gue dipaksa untuk berhemat. Biar keuntungan perusahaan tetap di perusahaan, jadi perusahaan bisa berkembang. Gue kembali ke kehidupan asli gue, dan nggak beli-beli yang nggak perlu. Hiburan dan rekreasi tetap ada, tapi nggak setiap hari kayak sebelumnya dengan excuse paling tai “lo udah kerja keras, layak lah apresiasi diri sendiri”.

Dan gue happy tuh! Ternyata lebih happy hidup sederhana, sesuai dengan level kita. Gak usah sok sok sarapan di monolog yang ternyata kalah enak tuh sama indomie rebus + bubur kacang ijonya warung kopi. Gak usah sok sok dinner di Skye yang ternyata kalah enak juga sama cumi pedes bikinan nyokap di rumah. Gak usah sok sok branded juga wong bentukannya juga gini-gini aja. Kalo Nicholas Saputra pake kemeja Alisan di Pojok Busana sama sepatu Dragonfly (aka capung) ya bentukannya tetep Nicholas Saputra. Begitu juga kalo Sandi biarpun pake jaket kulit Zara dan kolor Armani ya bentukannya tetep Sandi Sandi juga.

Entah berhubungan atau tidak, di awal tahun 2014 ini keuntungan perusahaan kembali meningkat dibanding periode terakhir tahun 2013. Bedanya sekarang, mentalitas gue lebih siap. Ada uang bukan berarti harus dibelanjakan, lebih baik dipakai untuk hal-hal yang bisa memproduksi lebih banyak lagi dan membawa manfaat positif ke banyak orang, minimal membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan memberi value sebaik-baiknya untuk konsumen. Gue tetep dengan gaji gue yang ngepas, tapi happy 🙂

Turns out, more money doesn’t mean more happiness. Belanja memang harus sesuai dengan pendapatan, bukan sebaliknya. Tapi mampu bukan berarti harus melakukan. Jadilah cukup dengan diri sendiri, tidak perlu justifikasi atau pengakuan dari orang lain. (gak ada ‘itu!’-nya karena ini bukan Mario Teguh)

From Steve Jobs

Here’s to the crazy ones, the misfits, the rebels, the troublemakers, the round pegs in the square holes…the ones who see things differently—they’re not fond of rules….

You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them, but the only thing you can’t do is ignore them because they change things….They push the human race forward, and while some may see them as the crazy ones, we see genius,

because the ones who are crazy enough to think that they can change the world are the ones who do.

Middle Class, Golongan Yang (Harus) Peduli

Masih terngiang riffing-nya @kukuhya tadi malem ke seorang ignorant-upper-class di MarketBar Kota Kasablanka tadi malem, mbak Yurice namanya  :

Ini show semalem. @pangeransiahaan @adrianoqalbi @kukuhya dan @kamga_mo

Ini show semalem. @pangeransiahaan @adrianoqalbi @kukuhya dan @kamga_mo

“Ah, orang-orang ini mah (om-om dan tante-tante yg malah foto2 ngebelakangin Kukuh saat lagi standup ngebawain bit ttg macet) gak ngerasain macet, kesini juga pake supir. Beda sama kita middle class. Gak bisa pake supir, kalo mau gak macet ya naik kereta.”

“(si mbak tiba2 nyeletuk ‘dompet ilang’ saat kukuh lagi standup) Dompetnya ilang mbak? di restoran? pasti gak pernah naik kereta kan? (si mbak ngangguk). Tuh kan. Kalo pernah naik kereta pasti tasnya gak ditaro sembarangan. Pake supir.. ya mbak ya?”

“Nah yang begini ini nih yang ‘goverment I don’t caree..’ , yang golput-golput. Kalo gue, gue golput gak mikirin goverment, ya gue gantungan melulu di kereta yang pelayanannya kayak tai ini. Gue bingung, mikirin solusi, gimana ini transportasi bisa berubah.”

“Mbak kerja dimana?” “HSBC” “Udah berapa lama?” “7 tahun” “wih betah ya” “iya di HSBC mah enak” “enak ya mbak ya, gaji gede, fuck kapitalis lah ya”

Dan emang, emang, cuma middle class yang peduli, middle class yang harus mikir apapun yang terjadi di negara ini, karena middle class ini lah (enakan pake ‘middle class’ ya drpd pake ‘golongan menengah’. soalnya nanti ada ‘golongan bawah’, judgemental aja kedengerannya) yang paling terkena imbas dari apa yang terjadi.

Lower class, adalah kelas yang udah-bagus-hari-ini-bisa-makan. Besok makan apa liat besok aja. Mau ada MRT kek, RUU ini-itu kek, isu sosial dan politik a i u e o kek, kagak ngaruh buat mereka. Tetep aja mereka udah bagus kalo hari ini bisa makan, dan besok makan apa, liat besok aja. Mereka gak peduli mau demokrasi kek, bemokrasi kek, yang penting gue bisa makan, anak gue bisa makan, gue bisa ngerokok, sukur2 anak gue bisa sekolah, kalo gak bisa sekolah ya udah tugas die bantuin emak babenya. Lo gak usah coba-coba ngomongin visi, motivasi, atau idealisme sama mereka. Singkatnya, ada perubahan apapun, mereka tetep nggak punya apa-apa.

Upper class, adalah kelas yang ‘tinggal ngangkang’ aja udah bisa beli apapun sampai mati. Kebanyakan ini kongenital (diperoleh dari lahir). Karena dari kecil udah biasa nyaman dan gak ngerti apa itu susah, gak pernah ngeliat apalagi ngalamin, mereka gak tau kalo hidup itu perlu diperjuangin. Bahwa gak bisa lo upload foto-foto makanan di instagram tau2 cicilan motor lo udh kebayar aja di akhir bulan. Bahwa gak bisa lo beli dress-dress lucu di Zara tau2 semesteran lo udh kebayar aja sampe lulus. Kebanyakan dari mereka udah gak peduli lagi, simply karena hidup mereka udah nyaman dan selama hidupnya, yang mereka lihat hidup orang-orang di sekitarnya ya nyaman. “Ih iya tau, Indonesia negara miskin, di luar tuh H&M banyak, disini susah nyarinya”. Oke, singkatnya ada perubahan apapun, mereka tetap bisa dapetin apapun yang mereka mau.

Middle class, beda lagi.

Eh tunggu, yang mana yang masuk middle class? ya yang bukan upper class atau lower class. Middle class adalah yang bisa memenuhi kebutuhan dasar makan-pake baju-tidur-sekolah, yang punya pekerjaan, yang punya tingkat pendidikan yang cukup, tapi juga kalo gak kerja, gak berusaha, mati. Kalo upper class duitnya gak abis ampe mati, middle class gak lama-lama, tgl 20 ke atas udah abis. Middle class ini udah bukan lower class lagi, dan berharap suatu saat bisa ada di upper class (dan mudah-mudahan tidak memiliki mentality yg sama kayak ignorant upper class)

Middle class ini paling rentan sama perubahan.

Sekolah di sekolah gratis pemerintah jelas nggak cukup buat mereka, dan mereka pengen dapet sekolah/nyekolahin anak di tempat yang berkualitas supaya kehidupan mereka jadi lebih baik. Makanya kalo ada perubahan kebijakan soal biaya pendidikan, mereka paling kena dampaknya. Lower class? udah sukur bisa sekolah gratis, apapun yang diajarin bodo amat, yang penting pake seragam sama terima raport. Upper class? Sekolah di sekolah internasional, bodo amat SPPnya setara 3x rata2 gaji karyawan di Jakarta. Dari kecil udah ngomong inggris, ampe lupa bahasa Indonesia.

Mereka gak bisa beli rumah seenaknya. Paling nanti, kalo udah 30an, itupun KPR. KPR di Jakarta? matamu, paling di bekasi yang ujung-ujung, Depok, Sawangan, Parung, atau Karawang. Makanya mereka pergi rumah-kantor naik kendaraan sendiri, bisa motor, mobil itupun juga nyicil, atau transportasi umum. Jadi kalo ada perubahan kebijakan soal transportasi, transportasi massal baru, jalanan rusak, macet dimana-mana, mereka paling berasa. Lower class? gak banyak commuting. Paling jauh muter kampung nyari bocah2 yang udah magrib masih aja kelayapan. Upper class? Pake supir. Tinggal duduk mainin iPad, atau tidur, tau-tau nyampe. Kalo lagi iseng, beli apartemen aja yg deket-deket kantor/kampus biar gak kena macet.

Kalo middle class sakit, biaya sendiri. Dan gue kasitau ama lo. Gue, dokter, gak mampu kalo disuruh bayar biaya berobat di RS gue sendiri tempat gue kerja. Makanya middle class harus punya asuransi kesehatan yang bener. Lower class? masih ada KJS. Middle class mau pake KJS? lo mau ngantri panjang dengan pelayanan sub-standard? ya pasti gak mau. Upper class? Batuk, ke Siloam. Pala pusing, ke RS Pondok Indah. Anak pilek, ke MMC. Berat dikit, “ah gak percaya sama dokter Indonesia, ke Singapore aja” asik gaya lo tong, duit juga duit bapak lo, itu juga hasil korupsi.

Itu cuma sedikit contoh. Kalo dijabarin semua, keburu Farhat Abbas sumpah pocong nanti. Intinya middle class mesti pinter-pinter lah. Cari informasi mengenai pengelolaan keuangan, pilih kerjaan yang punya prospek untuk grow ke depannya dan lo enjoy. Happy people tuh lebih produktif. Berteman dengan banyak orang dari banyak kalangan. Information is power lah. Koneksi juga penting. Koneksi bukan power lagi, koneksi itu dewa.

Trus ya jangan sok-sok gaya pengen dianggep upper class lah. Pulang kerja sama temen-temen ke GI, makan di Skye, beli baju di Dorothy Perkins, beliin pacar celana Ted Baker, semata biar keliatan gaya. “gengsi itu mahal bokk”, iye makan tuh gengsi, duit lo abis.  “Pake CC dong..” kartu kredit itu utang, dan utang harus dibayar, dan ada bunganya. Utang artinya lo beli sesuatu yang di luar kemampuan lo. Belanja sesuai dengan pendapatan lah, jangan dibalik.

Tapi ya jangan pengen banget lah dianggep lower class melulu. Bukan humble man, beda. Humble itu lo mampu, tapi lo gak melakukan, karena menurut lo gak perlu. Kalo pengen dianggep lower class melulu itu namanya mental ngemis. Tiap jalan minta ditraktir, keluar duit dikit kagak mau. Diajak kesana kesini gak mau, begitu dibilang dibayarin “AYOOKKKKK”. Kalo mental lo miskin, lo akan jadi miskin. Mental lo yang menggerakkan lo.

Middle class, karena tau situasinya yang terjadi di bawahnya, harusnya juga yang paling peduli lah. Lo-lo dari middle class ini lah yang bisa beropini dan bergerak untuk membantu yang perlu dibantu. Mostly sih anak-anak ya, karena mereka gak salah apa-apa lahir miskin gitu. Surrounded sama lingkungan yang gak membangun. Gak ada inspirasi, gak ada informasi.  Padahal mereka harusnya punya kesempatan yang sama dong. Kalo orang tuanya sebenernya katro juga ya, udah tau miskin malah kawin, malah punya anak, udah gitu nambah melulu lagi. Punya duit dikit kawin lagi. Udah gitu pengennya semua ditanggung negara. Ya oke lah bukan salah mereka sepenuhnya, karena tingkat pendidikan dan pengetahuan mereka yang kurang. Tapi tetep ada salahnya juga kan? Yang kasian adalah anak-anaknya ini nih. Gak tau apa-apa, masih kecil disuruh ngamen. Lah, lo yg buat, tanggung jawab dong kasih makan, kenapa malah mereka yang disuruh ngasih makan lo? Kebalik nih, gimana sih.

Ya, gitu aja deh.

What A CEO Does

Tadi baca di AVC, ada satu paragraf yang harus gue inget terus, tempel di kepala gue, dan lakukan on daily basis kalo mau jadi CEO yang bener. CEO, bukan pedagang.

A CEO does only three things. Sets the overall vision and strategy of the company and communicates it to all stakeholders. Recruits, hires, and retains the very best talent for the company. Makes sure there is always enough cash in the bank.

Mark Zuckerberg, CEO

Mark Zuckerberg, CEO. Jelas bukan dia yang ngisi freon AC di kantor facebook kan?

Pak Karsidi, pedagang. Dia yang masak, dia yang ngelap mangkok, dia yang betulin gerobak kalo rusak, dia yang beli bahan-bahan, dia yang terima pembayaran dari pelanggan.

Pak Karsidi, pedagang. Dia yang masak, dia yang ngelap mangkok, dia yang betulin gerobak kalo rusak, dia yang beli bahan-bahan, dia yang terima pembayaran dari pelanggan.

Menengok 2012

Sesungguhnya tahun 2012 yang mau abis ini adalah tahun yang cukup banyak “isi”-nya buat gue. Ada beberapa hal remarkable yang terjadi selama tahun ini :

Februari 2012, gue sama Pandu mendirikan PADI. Awalnya bertiga, sama rekan gue dari Bandung, namanya Regi. Namun karena satu dan lain hal akhirnya kita jalan berdua, sesuai namanya, PADI, Pandu-Sandi. Di bulan Februari kita punya ide mau punya bimbingan UKDI sendiri, lebih ke arah idealisme sih bukan bisnis murni. Lalu Maret kita mematangkan semuanya, membuat website www.padiukdi.com, dan jalanlah periode pertama di bulan April-Mei, di Jakarta dan Bandung. Saat ini kita sedang mempersiapkan periode ke-4 PADI, dan kita sudah punya tempat sendiri di Matraman Raya no 119, Jakarta Timur.

PADI

Mei 2012 – 1 tahun meninggalnya Putera. Besar banget impact perginya Putera untuk keluarga gue, dan kita pelan-pelan masih belajar untuk deal with it. Yang penting mimpi-mimpi Putera harus bisa dilanjutkan. Di hari ulang tahunnya 14 April, gue dateng ke tempat Putera terseret arus di Pelabuhan Ratu.

IMG_0550

Juli 2012 – Diajeng masuk FKUI. Dengan tingkat persaingan ekstrem dan kursi yang sedikit, adek gue si otak mesin Diajeng berhasil masuk FKUI lewat SNMPTN . Tentunya jejaknya di FKUI harus lebih baik dari kakaknya.

Diajeng

September 2012 – Resign dari ExxonMobil Bojonegoro, masuk ke RS ASRI. Sudah saatnya menikmati lagi kerja di setting Rumah Sakit, setelah sebelumnya kerja 2 minggu on- 2 minggu off di Bojonegoro. Jakarta, aku kembali!

Bojo

November 2012 – Dapet buku Untuk Indonesia Yang Kuat – 100 Langkah untuk tidak miskin-nya Ligwina Hananto dari kantor nyokap. Jadi kebuka pikiran mengenai perencanaan keuangan dari yang tadinya bener-bener nol. Dan ternyata menyenangkan! Setelah itu juga sempet ikut QMPC Level 1. Sekarang seneng banget kalo bikinin financial plan orang atau ngobrolin soal financial plan.

untuk-indonesia-yang-kuat

Banyak juga hal lain di tahun ini yang ga bisa ditulis secara timeline, di antaranya :

  1. Di tahun ini menetapkan pilihan residensi di Penyakit Dalam, setelah selama di FK, kepinginnya justru obgyn. Gue akan ikut seleksi periode Juli 2013 dan harus sudah mulai kuliah di Januari 2014.
  2. Bisa nyetir mobil! Walaupun belum bisa parkir haha..
  3. Menyadari bahwa gak mampu fitness. Udah nyoba 2 bulan, ga bisa menikmati. Yaudahlah biar begini saja badanku.
  4. Franto muncul sebagai pembuat keputusan baru di SeGO. Karena secara penghasilan dia juga melonjak super tajam, sehingga kepercayaan dirinya makin kuat.

Oke, sepertinya itu yang udah terjadi di 2012. Tahun 2013 jelas ada resolusi-resolusi, nanti menyusul gue tuliskan. Sekarang, taun baruan duluuuu

Money Can’t Buy Happiness. Bener gak sih?

We do things because we want to be happy.

Kita bangun pagi-pagi supaya gak telat kerja/sekolah, karena kalo telat kita bakal kena hukuman. Kalo kita kena hukuman, pasti kita nggak happy. Kita mandi dan gosok gigi karena kita mau beraktifitas seharian. Kalo kita berantakan dan bau, kita gak percaya diri berhubungan sama orang, badan juga lengket. Udah pasti kita nggak happy. Kita kerja/sekolah untuk masa depan kita, karena kita yakin kalo masa depan kita suram, makan sop batu, tinggal di kolong jembatan, luntang-lantung ga jelas juntrungannya, udah pasti kita nggak happy. Umat beragama beribadah karena ingin masuk surga. Karena kita yakin, di surga kita bakal happy. Di neraka di dalam api panas, kita ga bakal happy. “Panasnya Jakarta kayak gini aja gue udah bete, gimana panasnya neraka.” Simple, we do everything everyday, just because we want to be happy. Jadi being happy, adalah pencapaian tertinggi kehidupan.

We do everything everyday, just because we want to be happy. Jadi being happy, adalah pencapaian tertinggi kehidupan.

Masalahnya, gak semua orang tau gimana supaya happy. Ngelakuin sesuatu karena pengen happy, ujung-ujungnya pas udah tercapai “kok gue nggak ngerasa happy sama sekali?”. Mungkin aja karna masih ketuker-tuker antara happiness, pleasure, sama money.

Apa kalo lo punya duit banyak lo pasti happy? Nggak juga. Gak sedikit superstar yang mati bunuh diri. Uangnya gak akan abis tuh walaupun tiap hari dipake buat gantiin tissue WC.

Kalo gitu gak usah punya duit aja yang penting happy? Nggak bisa juga. Oke, ada yang bilang money can’t buy happiness. Itu betul. Happiness, sama seperti respek, karisma, dan love, must be earned. Harus pakai usaha. Gak bisa dibeli gitu aja kayak mie ayam. Itulah bedanya happiness sama pleasure. Pleasure itu basic instinct. Kebutuhan primitif. Hal-hal yang sifatnya bikin puas, tapi sementara. Laper, horny, capek, belanja, gengsi, pengen dipuji, itu pleasure. Laper, kita bisa beli makanan enak. Mau Sushi Tei, Bandar Jakarta, Jack Rabbit, atau KFC. Kenyang, enak, selesai. Happy? Nggak, itu pleasure. Kalo laper lagi ya pengen makan lagi. Horny, orang bisa pergi ke pijet plus plus atau kawin lagi (dgn alasan : menghindari zinah). Puas, selesai. Happy? Jelas nggak, itu pleasure. Malah bisa bawa Penyakit Menular Seksual pula dan merusak keluarga sendiri. Belanja belanjo, beli tas Louis Vuitton, Sepatu Prada, Jam Rolex, mobil Lamborghini, semua gadget terbaru yang bahkan gak terlalu butuh. Just for the sake of “shopping pleasure” dan gengsi. Happy? Seneng pas belinya doang, Abis itu ya udah. Betapa miskinnya kita kalau semua yang kita punya bisa dibeli dengan uang.

Betapa miskinnya kita kalau semua yang kita punya bisa dibeli dengan uang.

Tapi apa 100% bener kalo money can’t buy happiness? Kayaknya kurang lengkap ya, bisa dilengkapin jadi : Money can’t buy happiness, if you don’t know how to use it. Kalo dipakai buat diri sendiri mah, sebanyak apapun duit gak akan lo happy. Mentok cuma pleasure. Coba kalo dipakai untuk orang lain, kayak tadi contoh pleasure kita geser dikit. Misalnya beli makanan, tapi ini beda, kita beliin makanan keluarga kita, pake uang kita. “Ma, Pa, semuanya, yok makan, aku yang traktir deh”. Akan ada happiness yang nggak tertandingi disitu. Kita bisa traktir Papa mama makan, pake duit kita sendiri! Bangga campur happy pastinya. Other people happy because of us. That’s happiness.

Money can’t buy happiness, if you don’t know how to use it.

Atau belanja tadi, daripada kita beli tas Louis Vuitton buat diri sendiri, kita beliin tas sekolah buat adek kita yg masih sekolah, atau saudara atau tetangga yang masih punya anak kecil. Pas mereka nerima itu dan seneng, dicoba sambil ngaca-ngaca dan jadi semangat sekolah, sampe dipake ke tempat tidur, itu rasanya nyesssss.. bahagia. Contoh lebih simpel lagi, saat lo ngasih uang ke pengemis di jalan, uang kecil. Siapa disitu yang sebenarnya lebih diuntungkan? Siapa disitu yang lebih happy? Lo yang ngasih duit! Sebenernya kita yang butuh untuk ngasih si pengemis itu. Pengemis gak dpt duit dari kita so what, dia bisa dapet dari orang lain. Tapi kalo kita ngerasa perlu ngasih si pengemis, trus kita biarin aja lewat, ada yang hilang rasanya dlm diri kita. Kita “beli” happiness dengan uang yang gak seberapa itu. We feel better. We feel fulfilled. That’s happiness.

We feel better. We feel fulfilled. That’s happiness.

Taapii.. kalau kita kekurangan, sulit buat kita untuk merasa happy. Makanya gak bisa kita bilang kita gak butuh duit. Kalo memenuhi kebutuhan dasar sendiri aja sulit, gimana mau buat orang lain happy? Padahal seperti contoh kita lihat di atas, kita bisa happy kalau bisa buat orang lain happy kan? Lagi laper, dikejar-kejar debt collector, listrik air di rumah diputus, istri selingkuh sama yang lebih kaya, boro-boro mau buat orang lain bahagia. Yang ada malah emosi, jadi egois, ngerasa dikecewakan, mikir diri sendiri. “Ah persetan orang-orang, yang penting gue sendiri dulu. Gue, gue, gue. Lampu merah, gue tetep jalan! Gue ga ada waktu! Lawan arus, bodo amat! Mingggiiiiirrrr!!”

That’s why kenapa negara-negara miskin justru yang paling kacau situasinya. Karena mentalnya miskin. Self-centered. Definisi tentang happinessnya melenceng jauh. Maunya mintaaa aja. Pengen dikasihanin (“kita kan orang kecil, masa’ harus bayar pajak sih?”), pengen dimanja (“kita kan orang kecil harus diturutin dong”), pikiran sempit (“kita kan orang kecil, situ orang kaya sombong”), pengen didahulukan (“kita duluan dong, kita kan orang kecil, masa’ harus antri sih”). Itulah kenapa yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Lah, maunya dianggep miskin terus, yaudah terkabul.

Tapi kenapa juga ada orang yang dulunya miskin sekarang bisa masuk di jajaran taipan? Karena mental. Sekali lagi mental, bukan modal. Yang mental kaya berlomba-lomba untuk memberi “Apalagi yang bisa gue kasih ya? Kasihan mereka”. Give more, get more. Dengan lo ingin terus memberi, lo akan kerja lebih keras, bikin ide-ide brilian yang baru lagi, karena lo merasa masih banyak yang perlu lo bantu. Hasilnya lo jadi tambah kaya. Simpel kan? Sementara yang mentalnya miskin berlomba-lomba untuk meminta “Apalagi yang bisa gue minta ya? Duit dia kan banyak, enak hidupnya, kasih kita kek.” Dengan orientasi meminta, jadinya males kerja. Bantu orang lain? “Gue aja belom cukup, mau bantu orang..” Dan sesungguhnya mental kayak gini sekaya apapun gak akan cukup. Karena ya itu tadi, mental miskin. Jadi ngerti kan kenapa para koruptor itu udah korupsi milyar milyar masih tetep aja korupsi. Are they happy? Absolutely not! Sebaliknya yang kita liat di reality show “Tolong”. Orang yang kekurangan, tapi masih dengan tulus memberi. Mereka miskin, tapi mental mereka kaya. Are they happy waktu mereka memberi? Jelas!

Give more, get more.

So, lo hidup di dunia ini cuma sekali, maka buatlah hidup lo happy. Caranya? Buat orang lain happy!