Pelajaran Hidup dari 2013

Segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘review setahun lalu’ mendadak basi ketika Januari sudah melewati tanggal 5. That’s why menurut gue post ini juga basi. Tapi gapapa gue akan lanjut nulis karena gue lagi pengen aja. Karena ‘lagi pengen’ atau ‘lagi males’ itu adalah salah satu motif terkuat orang melakukan/tidak melakukan sesuatu.

Kali ini gue mau nulis tentang pelajaran yang gue ambil dari hidup gue sepanjang tahun 2013 yang udah lewat. lewat lama. Kenapa begitu? Karena :

  1. Kalau cara pandang gue terhadap hidup tidak berubah setelah setahun berlalu, berarti gue udah buang-buang waktu setahun dong? Wong kita buang-buang waktu 4 jam di kemacetan aja udah marah-marah, apalagi setahun.
  2. Kalau orang lain baca ini, setidaknya dia gak perlu masuk lubang yang sama dulu untuk belajar. Karena orang pintar gak membiarkan dirinya masuk angin terus minum jamu, tapi orang pintar itu belajar dari kesalahan. Kesalahan orang lain. Supaya hemat waktu.
  3. Kalau gue tiba2 lupa apa yang terjadi setahun lalu, gue bisa baca ini lagi. Ingatan bisa hilang, tapi tulisan bisa dibaca lagi.

Oke mulai aja.

Di tahun 2013 kemarin pendapatan gue naik dibanding tahun sebelumnya. Dilihat secara nominal mungkin kecil untuk kalian anak-anak milyuner yang pakai supir, 3 bulan sekali liburan ke luar negeri, tiap lunch dan dinner di restoran berkelas, yang uangnya tentunya dari papa mama kalian yang kaya dan baik hati memanjakan anaknya.

Gue yang tadinya gak bisa beli apa-apa mendadak kagetan. Ngerasa punya uang. Padahal ya itu tadi, secara nominal bener-bener belum apa-apa. Pengeluaran gue jadi tidak terkontrol dan konyol.

Happy? Nggak. Gue malah jadi ngerasa kurang terus. Craving for more. Earn more, tapi spend more. Belom lagi rasa nyesel yang suka muncul begitu liat “lah gue ngabisin segini? buat apaan aja sih.. duh, coba gak gue pake..”.

Sampai pada satu titik mendekati akhir tahun gue seperti dijedotin. Bahwa gue belum pantes dan sebenernya gak nikmatin juga ngejalanin gaya hidup seperti ini. Bahwa saat kita spend money, pleasurenya tuh cuma ada pas kita bayar. Ngerasa punya power. Kalo dulu cuma bisa liat dan bilang “gila mahal bener nih!” sekarang ngerasa mampu terus dalam pikiran “cuma segini, bisa lah. beli lah!” abis itu nguap fuih.. belum tentu juga kepake barangnya. Bener-bener sesaat.

Ternyata keputusan gue dan partner untuk bagi-bagi profit setiap akhir periode usaha malah jadi bumerang. Gue nggak siap dengan lonjakan tersebut, dan malah ngegerogotin perusahaan. Uang yang harusnya bisa dijadikan aset untuk perusahaan bertambah besar, malah gue pake untuk konsumsi.

Untung akhirnya gue sadar, dan mulai menata lagi. Gue atur sedemikian rupa sehingga gaji yang gue terima (karena gue punya usaha sendiri jadi gue ngatur gaji sendiri), ngepas dengan kebutuhan gue. Jadi gue dipaksa untuk berhemat. Biar keuntungan perusahaan tetap di perusahaan, jadi perusahaan bisa berkembang. Gue kembali ke kehidupan asli gue, dan nggak beli-beli yang nggak perlu. Hiburan dan rekreasi tetap ada, tapi nggak setiap hari kayak sebelumnya dengan excuse paling tai “lo udah kerja keras, layak lah apresiasi diri sendiri”.

Dan gue happy tuh! Ternyata lebih happy hidup sederhana, sesuai dengan level kita. Gak usah sok sok sarapan di monolog yang ternyata kalah enak tuh sama indomie rebus + bubur kacang ijonya warung kopi. Gak usah sok sok dinner di Skye yang ternyata kalah enak juga sama cumi pedes bikinan nyokap di rumah. Gak usah sok sok branded juga wong bentukannya juga gini-gini aja. Kalo Nicholas Saputra pake kemeja Alisan di Pojok Busana sama sepatu Dragonfly (aka capung) ya bentukannya tetep Nicholas Saputra. Begitu juga kalo Sandi biarpun pake jaket kulit Zara dan kolor Armani ya bentukannya tetep Sandi Sandi juga.

Entah berhubungan atau tidak, di awal tahun 2014 ini keuntungan perusahaan kembali meningkat dibanding periode terakhir tahun 2013. Bedanya sekarang, mentalitas gue lebih siap. Ada uang bukan berarti harus dibelanjakan, lebih baik dipakai untuk hal-hal yang bisa memproduksi lebih banyak lagi dan membawa manfaat positif ke banyak orang, minimal membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan memberi value sebaik-baiknya untuk konsumen. Gue tetep dengan gaji gue yang ngepas, tapi happy 🙂

Turns out, more money doesn’t mean more happiness. Belanja memang harus sesuai dengan pendapatan, bukan sebaliknya. Tapi mampu bukan berarti harus melakukan. Jadilah cukup dengan diri sendiri, tidak perlu justifikasi atau pengakuan dari orang lain. (gak ada ‘itu!’-nya karena ini bukan Mario Teguh)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s