Dream #1 : Sekolah Gue Sendiri

“Creating Leaders with Big Brain and Big Heart”

Satu-satunya jalan keluar untuk bangsa ini adalah pendidikan. Pendidikan bukan berarti punya gelar berderet-deret tapi korupsi atau jadi mahasiswa tapi cuma bisa demo teriak ngerusak. Pendidikan adalah soal kompetensi yang berjalan beriring dengan mental yang baik. Sayangnya sistem pendidikan di Indonesia jauh dari memuaskan. Kebanyakan sekolah hanya membuat anak-anaknya ‘balapan’ jadi ranking, belajar buat nilai, dan menghilangkan kreativitas. Anak cuma jadi pengikut, dan takut untuk salah. Belum lagi masih banyak kekerasan di sekolah. Hey, sebagian besar hidup kita diisi oleh sekolah, kenapa gak dibuat menyenangkan sekaligus mencerdaskan?

Sekolah di Finlandia. Negara dengan pendidikan nomor 1 di dunia. Personal, menyenangkan, penuh kreatifitas.

Makanya di atas semuanya, gue pengen punya institusi pendidikan sendiri. TK-SD-SMP-SMA. Sekolah formal tapi in my own way.

Sekolah yang produknya berkompetensi tinggi. Bukan karena sekolahnya, tapi karena keinginan anaknya sendiri untuk berprestasi. Mereka nggak butuh disuapi, mereka bs cari jalan sendiri. Tugas penting sekolah : memotivasi. Kalau anak-anak sudah termotivasi dan punya cita-cita besar, mereka tidak akan jadi bajingan. Karena buat mereka rokok, narkoba, unsafe sex, tawuran, tidak menarik. Tidak ada gunanya untuk cita-cita mereka.

Sekolah formal yang ruang untuk kreativitasnya besar. Passion anak adalah kunci utama disini. Apa jadinya kalau seorang calon Michael Jordan dibilang bego cuma karena nilai IPAnya jelek? Everyone is a genius in one thing. Sekolah ini akan nemuin “one thing” itu. Personal. Spesifik. Tidak membanding-bandingkan antar anak, karena perbandingan itu destruktif.

Sekolah yang setiap anaknya mampu menjadi leader. Memimpin, mengambil keputusan, memecahkan masalah. Karena inilah skill yang paling penting ketika anak sudah memasuki dunia nyata setelah selesai sekolah.

Sekolah yang setiap anaknya mencintai sekolahnya. Seperti Kanisian mencintai Kanisius. Hanya Kanisian yang mencintai lagu marsnya lebih dari semua lagu di dunia. Hanya Kanisian yang sampe kapanpun akan dengan bangga membawa nama dan atribut Kanisius. Buat Kanisian tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang lebih baik dan lebih bahagia daripada sekolahnya, Kanisius.

Maybe we’re not the best, but we’re proud to be Canisian.

Sekolah yang anak-anaknya peduli. Sekolah yang anak-anaknya tidak akan tenang kalau belum turut serta membuat dunia jadi lebih baik.

Model sekolahnya mungkin seperti Kolese Kanisius (I can’t think of other school better than CC), model sekolah di Finlandia, dan model yang sering diajukan oleh Sir Ken Robinson, pakar pendidikan dari Inggris. Dimodifikasi biar bisa diaplikasikan ke Indonesia. Establish di satu kota, kemudian bisa dibangun di kota-kota besar lainnya. Because every great thing needs to be spread.

Sir Ken Robinson, bapak pendidikan modern internasional.

Buat namanya, gue pengen naro’ nama adik gue Putera disitu. Effortnya buat belajar, semangat, cita-cita raksasa, dan kreativitasnya, selalu jadi inspirasi gue.

Tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanya upaya yang tidak setinggi cita-citanya (Rangga Umara Lele Lela)

Advertisements

18 thoughts on “Dream #1 : Sekolah Gue Sendiri

  1. Great writing San.

    Gue pengen komentar soal konsep takut salah. Selama ini emang kita dicekokin untuk do everything right even in your first attempt. Menurut gue itulah yang ngebatasin kreativitas seorang murid, seseorang lebih tepatnya. “Mendingan gue standar deh. Daripada salah”. Sayangnya, guru2pun mendukung ini. Mental “daripada salah” itu destruktif. Trs kalo salah emang knp? Dimarain. Trus? Malu. Trs? Menurut bokap gue, malu adalah bentuk hukuman orang2 eastern. Dalam beberapa keadaan itu baik. Tapi dalam hal ini jadi sesuatu yang ga membangun. Sesuatu yang ga membangun mendingan ditinggalin

    Berbagi pengalaman aja, selama gue sekolah di UK gue belahar soal “takut salah” ini. Orang disini santai aja ngehadapin kesalahan. Kalo salah ya udah. Take your lesson and do not do it again. Sangat simple. Dan gue jadi berani ngelakuin hal2 yang baru karena perlahan2 gue ninggalin mental ini.

    Kalo ini sekolah didiriin, gue usul salah satu sistemnya setiap murid punya kredit untuk berbuat salah. Misalnya, 1 orang diperbolehkan 10 kali salah dalam 1 semester. Apa yang terjadi setelah kreditnya habis? Dia akan punya kredit baru lagi. Mesti disempurnakan sih.

    Anyway, love your slogan “Creating Leaders with Big Brain and Big Heart”.
    Dream big. Go for it.

    • Nah, itu dia Dik! Padahal salah itu cara terbaik untuk belajar. Kita paling inget saat kita salah dan memperbaikinya sendiri. Orang kita senengnya dipuji, tapi benci kritik. Salah itu dibetulin, dicari APA yang salah, bukan SIAPA yang salah.

      Anyway thanks for reading dik! Btw, lo senegara sama Sir Ken Robinson skrg haha. Konsep-konsep dia keren banget, TED Talks-nya juga.

  2. Helo Sandi! Gw jd liat2 blog lo nih.. Great writing. Dan pemikiran gw cuma tertuju ke 1 tempat. SD gw di Jepang dulu. Hehe.. Gw percaya sedikit banyak sifat2 gw sampe saat ini dibentuk dari SD gw disana yang “hanya” 2 tahun. 2 tahun yg masih membekas bgt di ingatan gw saat ini. Dan sampe skrg gw pengen bgt anak gw bs dpt pendidikan dsitu.

    Gw ngga bs cerita tentang konsep2nya.. Tp seperti yg dika bilang, gw diajarin utk berani dan ga takut salah. Dari kelas 1 SD ada pelajaran “debat”, 2 jam / minggu. Yg dibahas sih remeh2 aja.. Gw inget di kelas 1 SD kita ngebahas perlu apa ngga nambah burung peliharaan di taman sekolah. Kelas dibagi 2, yg setuju sama ngga. Dan kita ngasi argumentasi masing2. Dipikir2 skrg pendapat gw dan temen2 pas itu suka ga masuk akal sih. Tp guru gw gak interupsi apa2.. Dia cm ngarahin klo omongannya ud melenceng kemana2.

    Terus, pelajaran2 lain semuanya applicable langsung. Belajar IPS? Gw ke pasar, ke stasiun kereta, disuruh nanya ke pedagang, ke petugas loket tiket kerjaan mereka apa aja. Belajar IPA? Tanam bunga, disuruh melihara serangga dan dicatet perkembangannya. Gw waktu itu melihara kepik. Temen gw melihara semut. Semut san! Tapi guru gw ga ketawa, temen2nya juga ga ada yg menganggap itu “aneh”. Belajar empati? Gw disuruh surat2an sm nenek-kakek di panti jompo. Suatu kali kita kunjungan kesana dan gw ngerasa seneeng bgt krn nenek itu blg dia ga kesepian krn punya temen baru: gw, anak ucil ingusan umur 7 tahun.

    Belajar tanggung jawab dan berkontribusi dalam kelas. Tiap jam makan siang, ada orang2 yg piket utk ambil makanan 1 kelas ke dapur. Yg piket hrs bagiin makanan buat sekelasnya dl br bole makan.
    Terus tiap kelas 6 punya “adik didik” kelas 1, kelas 5 punya “adik” kelas 2, kelas 4 sm kelas 3. Dibikin pasangan berdasarkan yg rumahnya deket2. Si kakak berkewajiban mastiin adiknya aman selama perjalanan brkt ke sekolah (di Jepang klo brkt sekolah kga bole dianter lgsg sm ortu, cm dianter sampe ky pos gtu, trus yg rumahnya deket2 ini baris brkt bareng2 didampingi 1 ortu yg lg piket).

    Banyak lah san.. Dan gw bersyukuuurrr bangettt punya kesempatan menikmati pendidikan spt itu. Kalo elo mau bikin skolah dgn konsep ky yg gw ceritain, kasitau ya. Gw mau bgt bantuinn hehehe..

    • Aih, dikunjungi oleh salah satu orang terpinter dan paling berkarakter di FKUI, ibu Irien hehe.

      Kerennnnn abissssss rin Jepanggg. Itulah kenapa negara maju semakin maju. Mereka concern soal pendidikan. Btw. komen lo bahkan lebih bagus daripada postingan gue. Gue suka banget kalo kayak gini.. Mudah-mudahan banyak yang komen lagi. Gue yakin ide2nya org2 nih brilian, apalagi yang pernah punya pengalaman di luar negeri. Priceless itu..

  3. Blog yang bagus dil, gw dukung rencana lo buat bikin sekolah. Kalo gw boleh kasih masukan sih, untuk membuat sekolah seperti yg lo pikirkan, bisa dimulai dari gerakan social movement di masyarakat sekitar. Kita bisa mulai dari mengajar anak-anak yang kurang, yang putus sekolah untuk menumbuhkan semangat belajar mereka lagi san. Kita harus menanamkan dalan pemikiran mereka bahwa sekolah itu penting, kita harus menanamkan dalam pikiran mereka bahwa hidup itu bukan semata-semata bukan hanya untuk uang. Gerakan social movement bisa dimulai dari lingkungan sekitar lo, seperti yang sudah gw lakukan bersama teman-teman gw di bogor.
    Keep the spirit san 🙂

    • Uda Buris ada juga disini, kumaha maneh teh damang?

      Betul banget Boi, harus dimulai dulu dari yang kecil. Gue dan temen-temen gue memang mau mulai, dan kita masih perlu belajar banyak. Kayaknya nanti gue bakal banyak nanya-nanya ke lo dan Anggun sebagai suri tauladan gue.

      Setuju, hidup bukan hanya untuk uang. Dan fakta yang buat sebagian orang mengejutkan, orang-orang kaya itu tidak pernah berpikir hidup hanya untuk uang. Gue lahir di keluarga sederhana, tapi beruntung bs kenal dengan org-org sukses dan anak-anak org sukses. Mindset mereka adalah generosity. Help others. Mereka gak pernah ‘berhitung’. They’re giving without waiting for paid back. Because the more you give, the more you get. Sounds unlogical (terutama buat org2 yg pikirannya sempit) tapi memang kenyataannya seperti itu. Mereka kaya karena MENTAL mereka kaya. Kalau mental kita kaya, kita akan merasa punya lebih dan bersyukur, karenanya kita akan berpikir untuk MEMBERI bukan MENGAMBIL.

      Kalo hidup tujuannya cuma untuk uang, lo akan jadi koruptor. Punya duit tapi gak bisa bikin anak-anak lo bangga. “Papaku dong, duitnya banyak, abis dia korupsinya jago” ga mungkin kan?
      Kalo hidup tujuannya untuk passion dan purpose, lo akan jadi Steve Jobs dgn Apple-nya, Bill Gates dgn Windows-nya, Richard Branson dgn Virgin-nya, Howard Schultz dgn Starbucks-nya, Sergey Brin-Larry Page dengan Google-nya. No limit. Nggak ada batas. Lo bisa jadi apapun yg lo mau, langit pun gak bisa membatasi lo. Dan seluruh dunia bangga sama lo.

  4. Spechless baca tulisannya dok, ga bnyk yg punya mimpi buat ngebangun karakter, dimulai dari impian pribadi sampe akhirnya bs jadi impian kolektif, sy rasa ini harus jadi mimpi indonesia

    Krisis kita sekarang ya krisis mindset, cara ngebenerinnya ya lewat sistem pendidikan, krn itu gerbang yg akhirnya ngebentuk generasi kita kedepan

    Jadikan sekolah sekolah sebagai tempat pengembangan diri, tempat buat ngebangun visi, kalo sejak dini udh kebentuk visinya, indonesia pasti jauh lebih baik

    Gutlak dok, Impian besar selalu dibangun dgn Semangat besar, Slalu bergantung pd Yang Maha Besar

    Regards
    Rangga Umara

    • That awesome moment when Rangga Umara, one of my role model, commenting on my blog.

      Nggak nyangka juga orang yang saya kutip quotesnya muncul disini.

      Ini harus saya print terus saya pigura nih. haha

      Thanks Mas.

      Sebenernya sangat banyak orang-orang yang peduli sama pendidikan. Banyak sekali. Indonesia beruntung punya Pak Anies Baswedan dan Indonesia Mengajar-nya. Pak Anies punya visi agar para pengajar muda dan mereka yang diajar menjadi Pemimpin kelas dunia dengan pemahaman akar rumput. Awesome. Kita juga punya Irfan Amalee dengan Peace Generation-nya. Ada juga temen-temen di Terminal Hujan Bogor @terminalhujan . Sungguh luar biasa, dan betapa bangga melihat orang-orang seperti mereka.

      Sayangnya media kurang tertarik untuk meliput ini semua dan menjadikannya inspirasi buat rakyat banyak. Media lebih tertarik dengan sinetron teriak dan nangis (sambil ada bunyi jren.. jrengg ala Mas Rangga), artis kawin cerai, lawakan yg dipenuhi kekerasan dan ketidaksopanan, serta berbagai berita buruk (kayaknya kalo gak buruk gak laku gitu berita).

      Saya masih mulai belajar untuk wujudin mimpi-mimpi besar saya mas. Seperti kata Mas Rangga (lagi2 saya kutip soalnya kerennya gak nahan) : Masih belum apa-apa, tapi tau pasti sedang menuju kemana…See you at the TOP!

  5. bernadus sandi ‘bedil’ pudjokusumo, perjaka cilik dengan ide dan pemahaman sosial yg besar.

    tanpa bermaksud memuji dan membuat lo tinggi (walaupun pasti lo pengen banget di puji ya), tapi sejujurnya ya yang membuat gw bangga pernah bersekolah di kampus yg punya sejarah perjuangan intelektual para pemudapemudinya ini adalah,, gw bisa bertemu-kenal-dan banyak berinteraksi dengan ‘sejujurnya’ para pemikir2 muda dengan idealisme yang berjalan dengan rasionalisme setara. betapa bangga dan besarnya bangsa ini kalo potensi-potensi ini bs muncul dan kelak menjadi pemimpin pembuka dan penuntun jalannya Indonesia yang mulai ‘letih’ ini menuju indonesia yang ‘percaya diri’.

    semoga cita2 lo ini bukan cuma sekedar artikel yang setelah ditulis kemudian lenyap seiring munculnya artikel2 lain seputar perselingkuhan artis dengan pejabat, kekerasan guru terhadap muridnya, tokoh agama yang mencabuli jamaahnya, atau tayangan talkshow kesehatan di TV yang bertema ‘sehat itu instan dan ajaib, sakit itu teluh dan demit’ yang membodohi bangsa yang sebenarnya punya potensi untuk melangkah jd bangsa yg lebih besar secara intelektual ini.

    ayo pak Anis baswedan, pak johanes surya, pak arif rachman, pak andy noya, pak bernadus sandi, ibu irien, pak borries, pak rangga umaya, pak lurah, pak kades, pak RT, pak ahmad dan pak ujang yang bukan siapa-siapa. siapapun, semuanya yang peduli akan kondisi pendidikan bangsa ini, yakinkan semua orang kalau gerakan konkrit memajukan pendidikan adalah sesuatu yang bukan mustahil. semoga dari tulisan dan komentar-komentar yang kecil ini bisa satu gerakan yang besar!

    mengutip dari pak bernadus sandi, “No limit. Nggak ada batas. Lo bisa jadi apapun yg lo mau, langit pun gak bisa membatasi lo. Dan seluruh dunia bangga sama lo”

    .sandy

    • Nah! Ini dia, bukti bahwa ide bisa menembus batas suku. Warga suku asli Moni berjarak 3300km dari Jakarta bisa ikut comment. Haha..

      Iya, mesti bersyukur teman-teman kita FKUI 2004 masih sangat banyak sekali yang memegang idealisme. Mereka calon-calon pemimpin negara ini, selama bisa mempertahankan 3 elemen penting : Integrity, Intelligence, dan Energy. Dan yang paling penting, berkolaborasi. Pepatah lama bilang 1 lidi gampang dipatahin, tapi sapu lidi lebih sulit dipatahkan dibanding baja.

      Heltara putra petir aja yang dibikin tinggi meno. Gue ntar-ntar aja lah. Haha

  6. Sekolah yg kl guru ngajar, anaknya ga baca topskor di blkg ma makan bakso. Apalagi yg ngurung gurunya di lemari mpe gurunya resign ye. hahahahaha

    • Ah gile, businessman kapasitor sesibuk lo, sempet masuk ke sini. Good old times, baca topskor, sebelahnya baca BOLA. Dua2nya minjem Boi. haha.

  7. Sungguh yang membedakan seseorang biasa atau luarbiasa adalah pemikiran dan tindakannya. Tidak terkecuali sang dokter Bernardus Sandy ini.

    Berawal dari pemikiran yang dituangkan dalam blog dan diyakini sebagai DREAM nya. Percaya atau tidak, ini akan menarik lebih banyak orang-orang yang memiliki pandangan sama yang akan mewujudkan impian dokter lebih cepat.

    Diperlukan keberanian dan kesungguhan untuk mewujudkan sekolah yang dokter cita-citakan. Dan ternyata 2 faktor tersebut sudah dokter miliki.

    “Bersama Majukan Nusantara”

    Salam kenal,

    Jonathan MJN

    • Halo Pak Jonathan,

      Senang sekali bisa menemukan orang-orang yang share same vision dengan saya. Seth Godin juga bilang bahwa Ideas that Spread, win.

      Mari Bersama Majukan Nusantara. Merdeka dalam arti sesungguhnya!

  8. Speechless bgt baca tulisannya Sandi…hiks hiks..gue selalu deg2an kalo baca sesuatu atau ketemu orang yang segitu berapi-apinya berbuat lebih untuk orang lain, or yang peduli dengan pendidikan anak-anak Indonesia. Memang san, kecerdasan anak Indonesia tidak bisa diukur hanya dari akademis, semua anak jenius di bidangnya masing2. Makanya Gardner membuat multiple intellegence, setau gue sudah ada model yang mendekati itu di Indonesia, hanya masalah penyetaraan kurikulum di Indonesia sangat sulit karena sistem ujian nasional ketek itu yang mengukur kesetaraan pengetahuan dan “penghargaan” anak sudah sekolah susah-susah selama 3 tahun.

    Sekolah berbasis karakter juga sudah menjadi mimpi gue sejak lama. Itu yang selalu menjadi tema penelitian dan esai gue setiap ikut lomba essay writing. Gimana pelajaran PKn jadinya mubazir. Kita tau mana yang benar dan salah cuma di tataran kognitif aja, tapi pada praktiknya 0 besar. Sayang bgt kan.

    Bagus bgt idenya san. Ide brilian harus diwujudkan, kalau bukan kita, siapa lagi??

    • Nah, nyonya Borries ini salah satu role model gue juga. Hormat grak!

      Betul banget gun, semua orang jenius. Gak ada cerita “gue gak berbakat”. bakat itu dicari, nggak tiba2 dikasih ilham “Ah, bakat gue ini!”. Lionel Messi gak pernah tahu bakatnya kalo dia ga pernah nendang bola. Warren Buffett gak pernah tahu bakatnya kalo dia gak pernah nyoba main saham.

      Nah itu juga, karakter, mental. Negara ini negara beragama semua, tapi chaos. Soalnya yang dipelajari itu HAFALANnya, bukan VALUEnya. Keberagamaannya hanya VERTIKAL tapi melupakan HORIZONTAL. Padahal harusnya semuanya seimbang.

      Gun, tapi gue mnt ajarin yak haha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s