Untuk Awam : Uji Kompetensi Dokter, apa gunanya sih?

“Ribut-ribut Uji Kompetensi Dokter, ada yang setuju, ada yang nggak, sebenernya apa sih gunanya itu?”

Bayangkan seperti ini.

Ban motor kita bocor, lalu kita ke tukang tambal ban, ternyata tukangnya nggak bisa nambal, bannya masih bocor.

Kita ke restoran, ternyata kokinya nggak bisa masak. Masakannya bukan cuma nggak enak, bahkan gosong.

Kita ke tukang servis henfon. Tulisannya sih servis henfon, ternyata buka henfon aja nggak pernah, isi komponen henfon aja nggak tahu.

Itu juga yang terjadi kalau jadi dokter nggak lewat uji kompetensi. Sama kayak tukang tambal ban nggak bisa nambal, koki nggak bisa masak, tukang servis henfon tapi nggak bisa nyervis henfon.

Bedanya itu urusannya ban, rasa dan henpon. Sementara yang ini : nyawa.

#DailyJournal : Blog Favorit

Dua blog ini adalah favorit saya : suamigila.com punya Kang Adhitya Mulya, dan manampiring17.wordpress.com punya Om Henry Manampiring.

Postingan favorit gue dari Suamigila.com adalah tentang keluarga dan tentang cara pandang terhadap agama dan perilaku masyarakat :

  1. Wacana – Apakah Poligami masih valid?
  2. How Islamic Are Islamic Countries?
  3. Akar Masalah Negara Ini
  4. Aldebaran 5 tahunan

Postingan favorit gue dari manampiring17.wordpress.com tentunya survey-surveynya (ini keren banget), tentang hubungan antar manusia, dan juga cara pandang Om Piring terhadap isu populer :

  1. A Letter to My Imaginary Child
  2. Saya Minta Maaf Kepada Indonesia
  3. Laporan Survey Kepuasan Pasangan (PALING DEMEN!)
  4. Laporan Survey menyebalkan Nasional

Kontennya berguna dan praktikal, bisa menyatakan argumen yang kuat dengan reasoning yang logis, yang bikin kita bergumam dalam hati “iya bener bener!”, dan bisa stand on their side tanpa membuat pembaca yang berada di opposite side merasa terserang. Mereka bisa cerita tentang diri dan hidupnya sendiri, tapi tidak membuat pembaca berpikir “terus, so what?”, malahan pembaca akan turut menjadi bagian dalam cerita tersebut. Adhitya Mulya adalah seorang islam yang taat, dan dia banyak menulis tentang islam, sementara gue katolik tapi gue menikmati membacanya. Henry Manampiring sering mengiklankan produk, dan gue gak pernah pakai produknya tapi gue juga menikmati membacanya. Keren kan?  Bonus : mereka genuinely funny.

Blog seperti mereka juga memberikan saya harapan, ketika menemukan pikiran-pikiran yang logis dan menyenangkan, di tengah hiruk pikuk The Social Media Generation, the self-centered Generation. Generation that love to feel that they are never wrong and are higher than everyone else. Generasi ini membuat istilah diskusi menjadi hilang, berganti menjadi sensi, ujung-ujungnya ribut (udah ribut, nggak lucu lagi. Kalo lucu masih bisa dinikmati sambil makan kacang atom). Padahal diskusi itu menyenangkan lho, syaratnya pihak yang berdiskusi melontarkan dan mau menerima argumen berdasarkan fakta dan logika sederhana. Kalau maunya ngotot terus walaupun udah sadar salah secara fakta dan logika sederhana ya gabung aja sana sama partai anu..

Lho kok jadi ngelantur. Udah ah..

Surat untuk Ibundanya

Halo tante.. selamat malam.. Apa kabar tante? Pastinya baik-baik saja, dan saya juga berharap semoga tante dan keluarga sehat dan happy terus.

Saya nulis di sini bukan mau gaya-gayaan jadi pujangga kayak Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta tante. Saya nulis di sini karena saya ndak punya kesempatan untuk bicara langsung sama tante. Yah, beginilah isi blog saya tante kalo tante lihat. Saya memang orangnya negatif, sok tahu, dan pragmatis tante. Dari dulu saya berpikir ah apa itu perasaan, hal-hal remeh temeh yang ndak bisa dikapitalisasi. Buat saya segala sesuatu yang ndak kelihatan itu ndak ada. Istilahnya kalo tante pernah denger : “ah, cinta kan ndak bisa dimakan”.

Saya juga akhirnya sampai pada satu kesimpulan untuk tidak akan menikah. Saya tidak mau menghabiskan hidup saya dengan orang yang sebelumnya total stranger. Lagipula selama ini, wanita-wanita yang saya kenal, dekat, atau pacaran, ndak ada yang benar-benar cocok. Semuanya kompromi. Lebih banyak jengkelnya daripada senengnya. Banyak “yaelah”-nya, walaupun dalam hati doang sih tante. Saya juga ndak pernah ngerasa punya relationship itu penting. Gak menarik untuk saya. Saya lebih pengen jadi orang super-kaya, punya pencakar langit, jadi orang powerful lah.

Sampai saya ketemu anak tante, Mbak Dian.

Dan semuanya jadi berubah.

Saya dulu tuh pernah ngebayangin ya tante, coba ya ada cewek yang begini begini begini. Kalo kata orang-orang, kriteria lah. Setelah saya jalanin hidup, rasanya mustahil ah ada yang begitu. Tapi begitu saya kenal Mbak Dian, lho kok ada semua ini. Saya juga heran. Kalo orang bilang tidak ada yang sempurna, lho ini kok buktinya ada. Kalo orang bilang, ndak ada orang yang bener-bener cocok sama kita, lho ini kok buktinya ada. Jadi kayak dongeng ya, tapi nyata gitu tante. Lebih herannya lagi, Mbak Dian juga ngerasa begitu ke saya. Ini mudah-mudahan bukan kege-erannya saya ya tante. Atau mungkin bisa dikonfirmasi langsung ke Mbak Dian tante.

Kebetulan ada kutipan dari film How I Met Your Mother tante, yang ngomong namanya Barney. Saya juga gak ngikutin filmnya, tapi kata-katanya bagus. Dia bilang gini tante : “You and Marshall belong together. The two of you have something most people search their whole lives for and never find.” Itu kayaknya apa yang dibilang sama Barney itu kejadian di saya dan Mbak Dian tante. We have something most people search their whole lives for and never find.

Mungkin tante berpikir, baru kenal masa’ segitunya sih, lebay ah. Bener, saya memang baru kenal Mbak Dian hitungan bulan tante. Tapi sebelumnya saya sudah kenal segala macam cewe tante. Saya yakin ketemu yang kayak Mbak Dian ini lebih jarang dari munculnya komet Haley. Saya yakin ndak ada yang kayak Mbak Dian. Yang pake sendal jepit ke Grand Indonesia, yang gak perlu repot make up an, yang kalo naik mobil tangannya ngegantung kayak naik angkot, yang bisa diajak becandaan apapun. Dituker Emma Stone yang main film Spiderman aja saya ndak mau tante. Dituker Mariana Renata tambah voucher Alfamart saya juga ndak mau tante.

Saya happy tante sama Mbak Dian. Sebelumnya saya ndak pernah ngerasain yang kayak gini. Beda tante, deep down di sini *nunjuk sternum* saya ngerasa tenang. Dan Mbak Dian juga begitu. Makanya saya yakin banget sama Mbak Dian tante. Mbak Dian bukan soal baru berapa bulan kenalnya tante, tapi soal sisa 47 tahun hidup saya yang akan saya habiskan sama Mbak Dian tante. (Saya punya target meninggal di usia 75 tahun tante – red).

Tante ndak usah khawatir kalau Mbak Dian sama saya. Saya orangnya bertanggung jawab, dan saya akan dukung apapun passion Mbak Dian. Saya sendiri ndak kebayang tante kalau ndak sama Mbak Dian. Gelap, item. Bener-bener gak kebayang, gak keliatan apa-apa. Saya yakin, sebagai orang tua pastilah yang terpenting buat tante adalah kebahagiaan anak-anaknya. Saya janji sama tante, Mbak Dian akan bahagia 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sama saya.

Baik begitu saja tante surat saya, lebih kurangnya saya mohon maaf jika ada kata-kata yang salah ya tante. Salam untuk keluarga Cibubur ya tante..

Oiya tante, ini ada sedikit foto-foto saya sama Mbak Dian, liat deh, lucu-lucu kannnn hehehehe

photo(2)

Processed with VSCOcam with g1 preset

photo 2

photo 1

photo 4

 

Pelajaran Hidup dari 2013

Segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘review setahun lalu’ mendadak basi ketika Januari sudah melewati tanggal 5. That’s why menurut gue post ini juga basi. Tapi gapapa gue akan lanjut nulis karena gue lagi pengen aja. Karena ‘lagi pengen’ atau ‘lagi males’ itu adalah salah satu motif terkuat orang melakukan/tidak melakukan sesuatu.

Kali ini gue mau nulis tentang pelajaran yang gue ambil dari hidup gue sepanjang tahun 2013 yang udah lewat. lewat lama. Kenapa begitu? Karena :

  1. Kalau cara pandang gue terhadap hidup tidak berubah setelah setahun berlalu, berarti gue udah buang-buang waktu setahun dong? Wong kita buang-buang waktu 4 jam di kemacetan aja udah marah-marah, apalagi setahun.
  2. Kalau orang lain baca ini, setidaknya dia gak perlu masuk lubang yang sama dulu untuk belajar. Karena orang pintar gak membiarkan dirinya masuk angin terus minum jamu, tapi orang pintar itu belajar dari kesalahan. Kesalahan orang lain. Supaya hemat waktu.
  3. Kalau gue tiba2 lupa apa yang terjadi setahun lalu, gue bisa baca ini lagi. Ingatan bisa hilang, tapi tulisan bisa dibaca lagi.

Oke mulai aja.

Di tahun 2013 kemarin pendapatan gue naik dibanding tahun sebelumnya. Dilihat secara nominal mungkin kecil untuk kalian anak-anak milyuner yang pakai supir, 3 bulan sekali liburan ke luar negeri, tiap lunch dan dinner di restoran berkelas, yang uangnya tentunya dari papa mama kalian yang kaya dan baik hati memanjakan anaknya.

Gue yang tadinya gak bisa beli apa-apa mendadak kagetan. Ngerasa punya uang. Padahal ya itu tadi, secara nominal bener-bener belum apa-apa. Pengeluaran gue jadi tidak terkontrol dan konyol.

Happy? Nggak. Gue malah jadi ngerasa kurang terus. Craving for more. Earn more, tapi spend more. Belom lagi rasa nyesel yang suka muncul begitu liat “lah gue ngabisin segini? buat apaan aja sih.. duh, coba gak gue pake..”.

Sampai pada satu titik mendekati akhir tahun gue seperti dijedotin. Bahwa gue belum pantes dan sebenernya gak nikmatin juga ngejalanin gaya hidup seperti ini. Bahwa saat kita spend money, pleasurenya tuh cuma ada pas kita bayar. Ngerasa punya power. Kalo dulu cuma bisa liat dan bilang “gila mahal bener nih!” sekarang ngerasa mampu terus dalam pikiran “cuma segini, bisa lah. beli lah!” abis itu nguap fuih.. belum tentu juga kepake barangnya. Bener-bener sesaat.

Ternyata keputusan gue dan partner untuk bagi-bagi profit setiap akhir periode usaha malah jadi bumerang. Gue nggak siap dengan lonjakan tersebut, dan malah ngegerogotin perusahaan. Uang yang harusnya bisa dijadikan aset untuk perusahaan bertambah besar, malah gue pake untuk konsumsi.

Untung akhirnya gue sadar, dan mulai menata lagi. Gue atur sedemikian rupa sehingga gaji yang gue terima (karena gue punya usaha sendiri jadi gue ngatur gaji sendiri), ngepas dengan kebutuhan gue. Jadi gue dipaksa untuk berhemat. Biar keuntungan perusahaan tetap di perusahaan, jadi perusahaan bisa berkembang. Gue kembali ke kehidupan asli gue, dan nggak beli-beli yang nggak perlu. Hiburan dan rekreasi tetap ada, tapi nggak setiap hari kayak sebelumnya dengan excuse paling tai “lo udah kerja keras, layak lah apresiasi diri sendiri”.

Dan gue happy tuh! Ternyata lebih happy hidup sederhana, sesuai dengan level kita. Gak usah sok sok sarapan di monolog yang ternyata kalah enak tuh sama indomie rebus + bubur kacang ijonya warung kopi. Gak usah sok sok dinner di Skye yang ternyata kalah enak juga sama cumi pedes bikinan nyokap di rumah. Gak usah sok sok branded juga wong bentukannya juga gini-gini aja. Kalo Nicholas Saputra pake kemeja Alisan di Pojok Busana sama sepatu Dragonfly (aka capung) ya bentukannya tetep Nicholas Saputra. Begitu juga kalo Sandi biarpun pake jaket kulit Zara dan kolor Armani ya bentukannya tetep Sandi Sandi juga.

Entah berhubungan atau tidak, di awal tahun 2014 ini keuntungan perusahaan kembali meningkat dibanding periode terakhir tahun 2013. Bedanya sekarang, mentalitas gue lebih siap. Ada uang bukan berarti harus dibelanjakan, lebih baik dipakai untuk hal-hal yang bisa memproduksi lebih banyak lagi dan membawa manfaat positif ke banyak orang, minimal membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan memberi value sebaik-baiknya untuk konsumen. Gue tetep dengan gaji gue yang ngepas, tapi happy 🙂

Turns out, more money doesn’t mean more happiness. Belanja memang harus sesuai dengan pendapatan, bukan sebaliknya. Tapi mampu bukan berarti harus melakukan. Jadilah cukup dengan diri sendiri, tidak perlu justifikasi atau pengakuan dari orang lain. (gak ada ‘itu!’-nya karena ini bukan Mario Teguh)

From Steve Jobs

Here’s to the crazy ones, the misfits, the rebels, the troublemakers, the round pegs in the square holes…the ones who see things differently—they’re not fond of rules….

You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them, but the only thing you can’t do is ignore them because they change things….They push the human race forward, and while some may see them as the crazy ones, we see genius,

because the ones who are crazy enough to think that they can change the world are the ones who do.

#DailyJournal : Time Travel

“Capek gue kerja.. Pengen deh balik ke jaman kuliah, bisa seneng-seneng sama temen-temen”

“Kuliah gak enak, nge-geng.. Pengen balik ke jaman SMA, lebih seru, gak ada beban.”

Kebanyakan orang pengen balik ke masa lalu. Karena masa lalu lebih mudah. Karena masa lalu lebih predictable.

DMC-12

kalo lo punya ini sih, suka-suka lo aja..

Satu-satunya keinginan gue balik ke masa lalu adalah mencegah Putera pergi ke Pelabuhan Ratu, 30 April 2011. Sisanya, gue gak tertarik balik ke masa lalu. Ngapain? Kan udah pernah dijalanin.

Gue lebih tertarik loncat ke masa depan. Karena gue anxious, gue gelisah, gue penasaran sama masa depan gue.

Kayak apa gue 5 tahun lagi?

Kayak apa gue 10 tahun lagi?

Sukses nggak gue di masa depan? Atau cuma jadi medioker?

Bener gak jalan yang sekarang gue pilih?

Gimana kalo ternyata gue gagal? Gimana kalo ternyata gue cuma gini-gini aja?

Tercapai nggak cita-cita gue punya beginian?

Mimpi gue gede. Banget. Tapi mimpi gak penting, semua orang bisa mimpi yang gede-gede. Yang penting jadi kenyataan atau nggak.

Kebanyakan orang pengen balik ke masa lalu. Gue lebih tertarik loncat ke masa depan.

Middle Class, Golongan Yang (Harus) Peduli

Masih terngiang riffing-nya @kukuhya tadi malem ke seorang ignorant-upper-class di MarketBar Kota Kasablanka tadi malem, mbak Yurice namanya  :

Ini show semalem. @pangeransiahaan @adrianoqalbi @kukuhya dan @kamga_mo

Ini show semalem. @pangeransiahaan @adrianoqalbi @kukuhya dan @kamga_mo

“Ah, orang-orang ini mah (om-om dan tante-tante yg malah foto2 ngebelakangin Kukuh saat lagi standup ngebawain bit ttg macet) gak ngerasain macet, kesini juga pake supir. Beda sama kita middle class. Gak bisa pake supir, kalo mau gak macet ya naik kereta.”

“(si mbak tiba2 nyeletuk ‘dompet ilang’ saat kukuh lagi standup) Dompetnya ilang mbak? di restoran? pasti gak pernah naik kereta kan? (si mbak ngangguk). Tuh kan. Kalo pernah naik kereta pasti tasnya gak ditaro sembarangan. Pake supir.. ya mbak ya?”

“Nah yang begini ini nih yang ‘goverment I don’t caree..’ , yang golput-golput. Kalo gue, gue golput gak mikirin goverment, ya gue gantungan melulu di kereta yang pelayanannya kayak tai ini. Gue bingung, mikirin solusi, gimana ini transportasi bisa berubah.”

“Mbak kerja dimana?” “HSBC” “Udah berapa lama?” “7 tahun” “wih betah ya” “iya di HSBC mah enak” “enak ya mbak ya, gaji gede, fuck kapitalis lah ya”

Dan emang, emang, cuma middle class yang peduli, middle class yang harus mikir apapun yang terjadi di negara ini, karena middle class ini lah (enakan pake ‘middle class’ ya drpd pake ‘golongan menengah’. soalnya nanti ada ‘golongan bawah’, judgemental aja kedengerannya) yang paling terkena imbas dari apa yang terjadi.

Lower class, adalah kelas yang udah-bagus-hari-ini-bisa-makan. Besok makan apa liat besok aja. Mau ada MRT kek, RUU ini-itu kek, isu sosial dan politik a i u e o kek, kagak ngaruh buat mereka. Tetep aja mereka udah bagus kalo hari ini bisa makan, dan besok makan apa, liat besok aja. Mereka gak peduli mau demokrasi kek, bemokrasi kek, yang penting gue bisa makan, anak gue bisa makan, gue bisa ngerokok, sukur2 anak gue bisa sekolah, kalo gak bisa sekolah ya udah tugas die bantuin emak babenya. Lo gak usah coba-coba ngomongin visi, motivasi, atau idealisme sama mereka. Singkatnya, ada perubahan apapun, mereka tetep nggak punya apa-apa.

Upper class, adalah kelas yang ‘tinggal ngangkang’ aja udah bisa beli apapun sampai mati. Kebanyakan ini kongenital (diperoleh dari lahir). Karena dari kecil udah biasa nyaman dan gak ngerti apa itu susah, gak pernah ngeliat apalagi ngalamin, mereka gak tau kalo hidup itu perlu diperjuangin. Bahwa gak bisa lo upload foto-foto makanan di instagram tau2 cicilan motor lo udh kebayar aja di akhir bulan. Bahwa gak bisa lo beli dress-dress lucu di Zara tau2 semesteran lo udh kebayar aja sampe lulus. Kebanyakan dari mereka udah gak peduli lagi, simply karena hidup mereka udah nyaman dan selama hidupnya, yang mereka lihat hidup orang-orang di sekitarnya ya nyaman. “Ih iya tau, Indonesia negara miskin, di luar tuh H&M banyak, disini susah nyarinya”. Oke, singkatnya ada perubahan apapun, mereka tetap bisa dapetin apapun yang mereka mau.

Middle class, beda lagi.

Eh tunggu, yang mana yang masuk middle class? ya yang bukan upper class atau lower class. Middle class adalah yang bisa memenuhi kebutuhan dasar makan-pake baju-tidur-sekolah, yang punya pekerjaan, yang punya tingkat pendidikan yang cukup, tapi juga kalo gak kerja, gak berusaha, mati. Kalo upper class duitnya gak abis ampe mati, middle class gak lama-lama, tgl 20 ke atas udah abis. Middle class ini udah bukan lower class lagi, dan berharap suatu saat bisa ada di upper class (dan mudah-mudahan tidak memiliki mentality yg sama kayak ignorant upper class)

Middle class ini paling rentan sama perubahan.

Sekolah di sekolah gratis pemerintah jelas nggak cukup buat mereka, dan mereka pengen dapet sekolah/nyekolahin anak di tempat yang berkualitas supaya kehidupan mereka jadi lebih baik. Makanya kalo ada perubahan kebijakan soal biaya pendidikan, mereka paling kena dampaknya. Lower class? udah sukur bisa sekolah gratis, apapun yang diajarin bodo amat, yang penting pake seragam sama terima raport. Upper class? Sekolah di sekolah internasional, bodo amat SPPnya setara 3x rata2 gaji karyawan di Jakarta. Dari kecil udah ngomong inggris, ampe lupa bahasa Indonesia.

Mereka gak bisa beli rumah seenaknya. Paling nanti, kalo udah 30an, itupun KPR. KPR di Jakarta? matamu, paling di bekasi yang ujung-ujung, Depok, Sawangan, Parung, atau Karawang. Makanya mereka pergi rumah-kantor naik kendaraan sendiri, bisa motor, mobil itupun juga nyicil, atau transportasi umum. Jadi kalo ada perubahan kebijakan soal transportasi, transportasi massal baru, jalanan rusak, macet dimana-mana, mereka paling berasa. Lower class? gak banyak commuting. Paling jauh muter kampung nyari bocah2 yang udah magrib masih aja kelayapan. Upper class? Pake supir. Tinggal duduk mainin iPad, atau tidur, tau-tau nyampe. Kalo lagi iseng, beli apartemen aja yg deket-deket kantor/kampus biar gak kena macet.

Kalo middle class sakit, biaya sendiri. Dan gue kasitau ama lo. Gue, dokter, gak mampu kalo disuruh bayar biaya berobat di RS gue sendiri tempat gue kerja. Makanya middle class harus punya asuransi kesehatan yang bener. Lower class? masih ada KJS. Middle class mau pake KJS? lo mau ngantri panjang dengan pelayanan sub-standard? ya pasti gak mau. Upper class? Batuk, ke Siloam. Pala pusing, ke RS Pondok Indah. Anak pilek, ke MMC. Berat dikit, “ah gak percaya sama dokter Indonesia, ke Singapore aja” asik gaya lo tong, duit juga duit bapak lo, itu juga hasil korupsi.

Itu cuma sedikit contoh. Kalo dijabarin semua, keburu Farhat Abbas sumpah pocong nanti. Intinya middle class mesti pinter-pinter lah. Cari informasi mengenai pengelolaan keuangan, pilih kerjaan yang punya prospek untuk grow ke depannya dan lo enjoy. Happy people tuh lebih produktif. Berteman dengan banyak orang dari banyak kalangan. Information is power lah. Koneksi juga penting. Koneksi bukan power lagi, koneksi itu dewa.

Trus ya jangan sok-sok gaya pengen dianggep upper class lah. Pulang kerja sama temen-temen ke GI, makan di Skye, beli baju di Dorothy Perkins, beliin pacar celana Ted Baker, semata biar keliatan gaya. “gengsi itu mahal bokk”, iye makan tuh gengsi, duit lo abis.  “Pake CC dong..” kartu kredit itu utang, dan utang harus dibayar, dan ada bunganya. Utang artinya lo beli sesuatu yang di luar kemampuan lo. Belanja sesuai dengan pendapatan lah, jangan dibalik.

Tapi ya jangan pengen banget lah dianggep lower class melulu. Bukan humble man, beda. Humble itu lo mampu, tapi lo gak melakukan, karena menurut lo gak perlu. Kalo pengen dianggep lower class melulu itu namanya mental ngemis. Tiap jalan minta ditraktir, keluar duit dikit kagak mau. Diajak kesana kesini gak mau, begitu dibilang dibayarin “AYOOKKKKK”. Kalo mental lo miskin, lo akan jadi miskin. Mental lo yang menggerakkan lo.

Middle class, karena tau situasinya yang terjadi di bawahnya, harusnya juga yang paling peduli lah. Lo-lo dari middle class ini lah yang bisa beropini dan bergerak untuk membantu yang perlu dibantu. Mostly sih anak-anak ya, karena mereka gak salah apa-apa lahir miskin gitu. Surrounded sama lingkungan yang gak membangun. Gak ada inspirasi, gak ada informasi.  Padahal mereka harusnya punya kesempatan yang sama dong. Kalo orang tuanya sebenernya katro juga ya, udah tau miskin malah kawin, malah punya anak, udah gitu nambah melulu lagi. Punya duit dikit kawin lagi. Udah gitu pengennya semua ditanggung negara. Ya oke lah bukan salah mereka sepenuhnya, karena tingkat pendidikan dan pengetahuan mereka yang kurang. Tapi tetep ada salahnya juga kan? Yang kasian adalah anak-anaknya ini nih. Gak tau apa-apa, masih kecil disuruh ngamen. Lah, lo yg buat, tanggung jawab dong kasih makan, kenapa malah mereka yang disuruh ngasih makan lo? Kebalik nih, gimana sih.

Ya, gitu aja deh.

What A CEO Does

Tadi baca di AVC, ada satu paragraf yang harus gue inget terus, tempel di kepala gue, dan lakukan on daily basis kalo mau jadi CEO yang bener. CEO, bukan pedagang.

A CEO does only three things. Sets the overall vision and strategy of the company and communicates it to all stakeholders. Recruits, hires, and retains the very best talent for the company. Makes sure there is always enough cash in the bank.

Mark Zuckerberg, CEO

Mark Zuckerberg, CEO. Jelas bukan dia yang ngisi freon AC di kantor facebook kan?

Pak Karsidi, pedagang. Dia yang masak, dia yang ngelap mangkok, dia yang betulin gerobak kalo rusak, dia yang beli bahan-bahan, dia yang terima pembayaran dari pelanggan.

Pak Karsidi, pedagang. Dia yang masak, dia yang ngelap mangkok, dia yang betulin gerobak kalo rusak, dia yang beli bahan-bahan, dia yang terima pembayaran dari pelanggan.

Mama

Untuk wanita terkuat di dunia, mama.

Terimakasih untuk bangun paling pagi dan tidur paling larut setiap hari, demi anak-anakmu bisa tidur lebih lama dan bangun lebih nyaman.

Terimakasih untuk selalu membiarkan anak-anakmu memilih. Untuk membiarkan kami belajar dari kesalahan sendiri.

Terimakasih untuk selalu berkata bisa setiap kali anakmu takut. Kalau semua mungkin. Kalau semua bisa.

Terimakasih untuk tidak pernah sekali pun mengeluh pada jutaan tetes peluhmu.

Terimakasih untuk selalu percaya pada anak-anakmu, tanpa curiga, tanpa menggurui.

Terimakasih untuk nasihat-nasihat terindah, yang diucapkan tanpa sepatah kata tapi dengan sejuta teladan.

Terimakasih untuk hidup yang kau korbankan untuk keluarga. Untuk kesenangan pribadi yang tak pernah menarik minatmu.

Terimakasih untuk tangan yang selalu ada di saat anakmu jatuh. meski sebelumnya telah kau beritahu dan kami tak mendengar.

Terimakasih untuk tenaga yang tak pernah lelah, tak pernah tua.

Terimakasih untuk tidak pernah menuntut. Setitik pun, sedetik pun.

Aku ingin belajar bagaimana caranya menjadi sepertimu dan papa, orangtua yang tidak pernah sekalipun mengecewakan anak-anaknya.

Terimakasih telah menjadi orangtua, teman, dan pendorong terbaik.

Emak Babe